SUARA PERUBAHAN: Kreatif, Inovatif, Religius

Kelak Kau Mengingat, Kau Akan Teringat

Foto: Instagram/@mukeikhlas

Kawasan Bundaran HI dipenuhi oleh ribuan masyarakat Indonesia yang mencakup mahasiswa, Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR), juga Koalisi Masyarakat Sipil yang ikut serta dalam unjuk rasa pada 28 Oktober 2026 yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Pada demo kali ini terdapat 5 tuntutan yang dibawakan, yaitu penetapan status bencana untuk karhutla, pembenahan kebijakan ekonomi, penurunan biaya pendidikan, reformasi hukum dan pemberantasan KKN, serta perlindungan kebebasan berpendapat.

‎Dalam aksi unjuk rasa yang dimulai sejak pagi hari hingga malam dini hari, terdapat beberapa moment menarik dan haru yang terekam serta menyita perhatian publik, yaitu sebuah Salib merah berukuran besar yang digotong oleh massa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan juga ibadah sholat Maghrib berjamaah yang digelar di kawan Bundaran HI.

Simbol Salib merah yang dibawa oleh PMKRI tentu bukan tanpa alasan, menurut penjelasan yang dikutip dari Greenpeace, Salib merah menggambarkan harapan agar hutan tetap terlindungi dari aktivitas yang mengancam kelestariannya. Warna merah pada Salib merepresentasikan darah, penderitaan, dan doa masyarakat adat. Ia bukan sekadar tanda perlawanan terhadap manusia, melainkan penolakan terhadap kehancuran lingkungan dan hilangnya ruang hidup.

Moment haru tergambar pada sholat Magrib berjamaah yang diikuti oleh ratusan massa aksi di kawasan Bundaran HI, hal ini menjadi gambaran kebersamaan dan solidaritas para massa aksi yang tetap menjalankan ibadah di sela-sela aksi demonstrasi. Apa yang dialami oleh hampir seluruh rakyat Indonesia pada saat ini bukan lagi sebuah hal yang bisa dimaklumi. Berbagai berita buruk mulai dari bencana alam dan kebijakan pemerintah yang membuat masyarakat merasakan dampak negatif rasanya sudah tidak ada lagi ruang untuk bersabar. Tetapi satu hal pasti yang terus bisa kita lakukan terlebih sebagai umat beragama adalah tetap berdoa dan terus berharap bahwa keadilan akan datang untuk negeri ini, sambil tetap terus menyuarakan aspirasi dan kritikan terhadap mereka yang seharusnya bertanggungjawab atas ketidakadilan yang kita rasakan.


Penulis: MYA