Kelak Kau Mengingat, Kau Akan Teringat
Kamis, 29 Oktober 2026
Kawasan Bundaran HI dipenuhi oleh ribuan masyarakat
Indonesia yang mencakup mahasiswa, Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR),
juga Koalisi Masyarakat Sipil yang ikut serta dalam unjuk rasa pada 28 Oktober
2026 yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Pada demo kali ini terdapat 5 tuntutan yang
dibawakan, yaitu penetapan status bencana untuk karhutla, pembenahan kebijakan
ekonomi, penurunan biaya pendidikan, reformasi hukum dan pemberantasan KKN,
serta perlindungan kebebasan berpendapat.
Dalam
aksi unjuk rasa yang dimulai sejak pagi hari hingga malam dini hari, terdapat
beberapa moment menarik dan haru yang terekam serta menyita perhatian publik,
yaitu sebuah Salib merah berukuran besar yang digotong oleh massa dari
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan juga ibadah sholat
Maghrib berjamaah yang digelar di kawan Bundaran HI.
Simbol
Salib merah yang dibawa oleh PMKRI tentu bukan tanpa alasan, menurut
penjelasan yang dikutip dari Greenpeace, Salib merah menggambarkan harapan agar
hutan tetap terlindungi dari aktivitas yang mengancam kelestariannya. Warna
merah pada Salib merepresentasikan darah, penderitaan, dan doa masyarakat adat.
Ia bukan sekadar tanda perlawanan terhadap manusia, melainkan penolakan
terhadap kehancuran lingkungan dan hilangnya ruang hidup.
Moment
haru tergambar pada sholat
Magrib berjamaah yang diikuti oleh ratusan massa aksi di kawasan Bundaran HI,
hal ini menjadi gambaran kebersamaan dan solidaritas para massa aksi yang tetap
menjalankan ibadah di sela-sela
aksi demonstrasi. Apa yang dialami oleh hampir seluruh rakyat Indonesia pada
saat ini bukan lagi sebuah hal yang bisa dimaklumi. Berbagai berita buruk mulai dari bencana
alam dan kebijakan pemerintah yang membuat masyarakat merasakan dampak negatif
rasanya sudah tidak ada lagi ruang untuk bersabar. Tetapi satu hal pasti yang terus bisa
kita lakukan terlebih sebagai umat beragama adalah tetap berdoa dan terus
berharap bahwa keadilan akan datang untuk negeri ini, sambil tetap terus
menyuarakan aspirasi dan kritikan terhadap mereka yang seharusnya
bertanggungjawab atas ketidakadilan yang kita rasakan.
Penulis: MYA
