SUARA PERUBAHAN: Kreatif, Inovatif, Religius

Berkaca dari Film "Tunggu Aku Sukses Nanti": Realita Pahit Sarjana yang "Turun Kelas" di Tengah Sulitnya Cari Kerja

Oleh Rizdhani


Pic By IMD 

Momen kumpul keluarga saat Lebaran sering kali menjadi arena yang menegangkan bagi sebagian anak muda, terutama saat dihujani pertanyaan seputar karier dan kesuksesan. Isu ini dengan sangat apik ditangkap oleh film drama keluarga terbaru yang tayang momentum Lebaran 2026, Tunggu Aku Sukses Nanti.

Lewat tokoh Arga—seorang pemuda yang menganggur selama tiga tahun dan pontang-panting mencari kerja demi membuktikan diri—film ini seolah menjadi cermin dari realitas sosial di Indonesia. Namun, melangkah keluar dari layar bioskop, pertanyaannya adalah: Seberapa susah sebenarnya mencari pekerjaan di Indonesia saat ini?

Laporan mendalam dari National Geographic Indonesia mengungkap fakta yang cukup menyesakkan. Di balik antrean panjang pencari kerja yang terus membludak setiap tahunnya, tersimpan fenomena "sarjana turun kelas" dan pengangguran terselubung yang makin mewabah.

Fenomena "Pengangguran Terselubung" Saat ini, banyak lulusan universitas yang secara administratif tercatat telah bekerja, namun sebenarnya mereka masuk dalam kategori pengangguran terselubung (underemployment). Ini adalah kondisi di mana seseorang bekerja di luar bidang keahliannya, memiliki beban kerja yang sangat sedikit, atau tidak produktif secara optimal demi sekadar bertahan hidup.

Banyak sarjana yang terpaksa menelan gengsi dan mengambil pekerjaan jauh di bawah kualifikasi pendidikan mereka. Kisah nyata di lapangan membuktikan hal ini:

  • Reza Fahlevi, seorang sarjana Ilmu Komputer di Bandung, kini bekerja sebagai satpam. Setiap hari selepas piket menjaga keamanan, ia tak kenal lelah mengirimkan lamaran kerja untuk posisi software engineer ke berbagai perusahaan, meski belum ada yang membuahkan hasil.

  • Ihlazul Amal, sarjana Manajemen lulusan tahun 2023, sudah dua tahun berprofesi sebagai pramukantor (office boy). Baginya, di tengah sulitnya ekonomi saat ini, pekerjaan apa pun wajib disyukuri.

Sekilas, mereka memang tidak terlihat menganggur, namun secara makro, produktivitas kerja mereka tidak memberikan kontribusi maksimal bagi pertumbuhan ekonomi maupun pengembangan karier pribadi mereka.

Kesenjangan Peluang: Mengapa Lulusan Baru Makin Tersingkir? Kesulitan mencari kerja bukan semata-mata karena kurangnya kompetensi, melainkan adanya ketimpangan sistemik. Riset menunjukkan adanya kesenjangan peluang yang sangat mencolok berdasarkan latar belakang ekonomi.

Anak-anak atau lulusan yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah menghadapi jalan yang jauh lebih terjal. Data dari para peneliti mengungkapkan bahwa hampir dua pertiga anak dari keluarga kurang mampu tidak memiliki peluang sama sekali atau hanya memiliki maksimal satu peluang emas untuk memajukan kariernya, dibandingkan dengan mereka yang memiliki privilese ekonomi sejak kecil.

Langkah ke Depan Film Tunggu Aku Sukses Nanti mungkin menegaskan bahwa "sukses itu relatif, tapi pertanyaan keluarga itu absolut." Namun, di ranah kebijakan publik, masalah pengangguran ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengubah pola pikir.

Dibutuhkan investasi besar-besaran dan merata untuk memperluas akses peluang—terutama bagi generasi muda dari kelompok berpenghasilan rendah. Tanpa adanya kebijakan pembukaan lapangan kerja yang masif dan sesuai kualifikasi, fenomena sarjana yang pontang-panting mencari kerja hanya akan terus menjadi siklus tahunan yang menyesakkan.


(Catatan Redaksi: Artikel ini diolah dan dikembangkan dari laporan asli National Geographic Indonesia bertajuk "Tunggu Aku Sukses Nanti: Seberapa Susah Mencari Pekerjaan di Indonesia?")