Di Bawah Pekat Asap Karhutla: Menagih Janji Kesejahteraan yang Tinggal Narasi
Selasa, 20 Oktober 2026
Oleh Rifal Fathu Rosyid
![]() |
| Karhutla Sumber: Universal Eco |
Lahir
dan tinggal di negeri yang sejak dalam kandungan sejarah didengungkan dengan
frasa gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karta raharja – sebuah janji
agung tentang tanah yang subur makmur, damai, dan menyejahterakan seluruh
rakyatnya. Namun, setiap kali kabut pekat akibat kebakaran hutan dan lahan
(karhutla) membubung tinggi dan mencekik napas jutaan manusia, frasa itu terasa
berubah menjadi ironi yang menyayat hati. Negeri ini kaya raya, tetapi kekayaan
itu sering kali hanya berpihak pada segelintir oligarki pemegang izin konsesi,
sementara rakyat di akar rumput dipaksa menghirup racun dan menanggung derita
akibat keserakahan yang dibiarkan.
Setiap
tahun, bencana karhutla berulang seperti naskah teater murahan yang sengaja
diputar kembali tanpa ada niat serius untuk mengubah akhirnya. Lahan-lahan
gambut mengering, hutan tropis terbakar hebat, dan langit mendadak kelam oleh
asap beracun yang merenggut hak dasar anak-anak untuk bernapas lega dan belajar
dengan aman. Yang lebih memuakkan dari amukan api di lapangan adalah kobaran
amarah atas kelambanan absolut dari pemerintah yang berkuasa.
Negara,
melalui para pemangku kebijakan, bersikap seolah-olah bencana tahunan ini
adalah musibah musiman yang datang tiba-tiba, bukan krisis ekologis sistemik
yang dipicu oleh pembiaran hukum. Respons yang ditunjukkan selalu berpola sama:
lamban, reaktif, dan sebatas pemadam kebakaran simbolik di permukaan. Ketika
hutan sudah menjadi arang dan rakyat telah menjerit bertahun-tahun, birokrasi
masih sibuk berdebat di ruang-ruang ber AC, saling lempar tanggung jawab, dan
menerbitkan instruksi basa-basi yang tak bertaring di hadapan para korporasi
pembakar lahan.
Ketidakbecusan
ini bukan lagi sekadar bentuk inkompetensi, melainkan sebuah pengkhianatan
terang-terangan terhadap mandat konstitusi untuk melindungi tumpah darah
Indonesia. Pemerintah tampak perkasa saat membungkam kritik sipil atau
memuluskan regulasi investasi, tetapi mendadak lumpuh dan impoten ketika
berhadapan dengan sindikat perusak lingkungan yang membakar masa depan bangsa.
Pada
akhirnya, di balik deretan retorika pembangunan dan janji-janji kosong tentang
transisi hijau, rakyat tetap ditinggalkan sendiri. Kami bertahan hidup di atas
tanah air tercinta bukan berkat perlindungan negara, melainkan karena ketangguhan
nurani dan sisa-sisa asa yang tak pernah padam, meski di saat yang sama, negara
justru membiarkan tanah ini terus membara dan membusuk dari dalam.
