SUARA PERUBAHAN: Kreatif, Inovatif, Religius

Di Bawah Pekat Asap Karhutla: Menagih Janji Kesejahteraan yang Tinggal Narasi

 Oleh Rifal Fathu Rosyid

Karhutla Sumber: Universal Eco
Lahir dan tinggal di negeri yang sejak dalam kandungan sejarah didengungkan dengan frasa gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karta raharja – sebuah janji agung tentang tanah yang subur makmur, damai, dan menyejahterakan seluruh rakyatnya. Namun, setiap kali kabut pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membubung tinggi dan mencekik napas jutaan manusia, frasa itu terasa berubah menjadi ironi yang menyayat hati. Negeri ini kaya raya, tetapi kekayaan itu sering kali hanya berpihak pada segelintir oligarki pemegang izin konsesi, sementara rakyat di akar rumput dipaksa menghirup racun dan menanggung derita akibat keserakahan yang dibiarkan.

Setiap tahun, bencana karhutla berulang seperti naskah teater murahan yang sengaja diputar kembali tanpa ada niat serius untuk mengubah akhirnya. Lahan-lahan gambut mengering, hutan tropis terbakar hebat, dan langit mendadak kelam oleh asap beracun yang merenggut hak dasar anak-anak untuk bernapas lega dan belajar dengan aman. Yang lebih memuakkan dari amukan api di lapangan adalah kobaran amarah atas kelambanan absolut dari pemerintah yang berkuasa.

Negara, melalui para pemangku kebijakan, bersikap seolah-olah bencana tahunan ini adalah musibah musiman yang datang tiba-tiba, bukan krisis ekologis sistemik yang dipicu oleh pembiaran hukum. Respons yang ditunjukkan selalu berpola sama: lamban, reaktif, dan sebatas pemadam kebakaran simbolik di permukaan. Ketika hutan sudah menjadi arang dan rakyat telah menjerit bertahun-tahun, birokrasi masih sibuk berdebat di ruang-ruang ber AC, saling lempar tanggung jawab, dan menerbitkan instruksi basa-basi yang tak bertaring di hadapan para korporasi pembakar lahan.

Ketidakbecusan ini bukan lagi sekadar bentuk inkompetensi, melainkan sebuah pengkhianatan terang-terangan terhadap mandat konstitusi untuk melindungi tumpah darah Indonesia. Pemerintah tampak perkasa saat membungkam kritik sipil atau memuluskan regulasi investasi, tetapi mendadak lumpuh dan impoten ketika berhadapan dengan sindikat perusak lingkungan yang membakar masa depan bangsa.

Pada akhirnya, di balik deretan retorika pembangunan dan janji-janji kosong tentang transisi hijau, rakyat tetap ditinggalkan sendiri. Kami bertahan hidup di atas tanah air tercinta bukan berkat perlindungan negara, melainkan karena ketangguhan nurani dan sisa-sisa asa yang tak pernah padam, meski di saat yang sama, negara justru membiarkan tanah ini terus membara dan membusuk dari dalam.