SUARA PERUBAHAN: Kreatif, Inovatif, Religius

Setelah Menjadi Mahasiswa, Lalu Apa?

Foto: Tim Supermedia

Memasuki dunia perguruan tinggi mungkin dimulai dengan satu tujuan sederhana: menjadi sarjana. Namun, ketika status mahasiswa telah disandang, persoalannya tidak lagi sesederhana mengejar ijazah. Ada ruang yang lebih luas untuk dipikirkan: gagasan apa yang akan diperjuangkan, persoalan apa yang akan dipertanyakan, dan peran apa yang akan dilakukan.

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam agenda Aktivis Talk yaitu rangkaian Masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang berlangsung di Gedung Cendekia, Senin (21/9/2026). Mengangkat tema “Generasi Muda dan Demokrasi: Menyalakan Nalar Kritis Mahasiswa Baru di Era Disrupsi”, kegiatan tersebut menghadirkan Rocky Gerung dan Salsabila Syaira.

Dalam penyampaiannya, Rocky Gerung menekankan bahwa kehidupan mahasiswa tidak semestinya hanya berorientasi pada perolehan ijazah. Menurutnya, masa perkuliahan juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berhadapan dengan berbagai gagasan.

“Ini hari pertama Anda putuskan. Anda mau jadi mahasiswa dan nunggu ijazah, atau Anda mau jadi mahasiswa untuk bertengkar dengan pikiran dunia.”

Pernyataan tersebut membuka refleksi bagi mahasiswa dalam memaknai masa perkuliahan. Kampus tidak hanya menjadi tempat untuk mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi juga ruang untuk bertemu dengan beragam pemikiran. Ditengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan banyaknya informasi, tetapi dituntut untuk mengolah informasi yang diterima secara kritis.

Namun, berpikir kritis saja tidak berhenti pada kemampuan mempertanyakan sesuatu. Ada pula kesadaran mengenai posisi mahasiswa sebagai bagian dari kehidupan sosial.

Salsabila Syaira menyoroti pentingnya mahasiswa menyadari keberadaan dan posisi mereka dalam kehidupan bernegara. Dalam wawancara bersama Supermedia, ia menyampaikan bahwa mahasiswa perlu merasa bahwa keberadaannya memiliki nilai dan dapat berkontribusi terhadap kehidupan sosial.

“Merasa bahwa keberadaannya berharga karena sebetulnya negara ada karena kita merasa ada. Jadi kalau kita merasa kecil di hadapan negara, itu juga sekaligus mengecilkan negara sebagai sebuah organisasi politik yang harus kita rawat bersama-sama.”

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa tidak berhenti di ruang akademik. Kesadaran terhadap keberadaan dan posisi sosial menjadi bagian dari proses mahasiswa dalam memahami lingkungan di sekitarnya.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang seberapa cepat ijazah diperoleh. Ada proses untuk membangun cara berpikir, berhadapan dengan berbagai gagasan, dan menyadari bahwa keberadaan mahasiswa memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

Sebab, setelah seseorang menjadi mahasiswa, pertanyaan yang tersisa bukan lagi sekadar “kapan lulus?”, tetapi juga “untuk apa menjadi mahasiswa?”




Reporter: MYA
Penulis: ARH