BEM FAI dan BEM FTAN Kolaborasi Ubah Limbah Sampah Jadi Pupuk
Jumat, 10 April 2026
Doc by Tim Supermedia
Cireundeu, Supermedia - Badan Eksekutif Mahasaiswa Fakultas Agama Islam (BEM FAI) dan BEM Fakultas Pertanian (BEM FTAN) menyelenggarakan sosialisasi pengelolaan sampah di Kampung Pangkal Jaya pada hari Senin-minggu (06/04/2026 - 12/04/2026).
syahputra pandu wardana selaku Gubernur BEM FAI Menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah yang berfokus pada pemahaman sampah organik dan anorganik bagi warga. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli dan terampil dalam mengelola sampah di lingkungan mereka.
sampah organik dapat dimanfaatkan kembali, salah satunya diolah menjadi kompos yang bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga atau pertanian. Pemanfaatan ini dianjurkan untuk pemakaian pribadi, bukan untuk tujuan komersial. Sementara itu, sampah anorganik perlu dikelola dengan cara yang tepat agar tidak menimbulkan pencemaran dan masalah lingkungan baru.
"Tujuan dari sosialisasi kegiatan ini yaitu pertama kita ingin mengedukasi terkait dari limbah-limbah organik dan anorganik, sebenernya dari sampah organik itu bisa kita jadikan pupuk, tapi kalau untuk dijual ga direkomendasikan," Ujar Pandu
Kegiatan sosialisasi ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan warga mengenai perbedaan serta penanganan sampah organik dan anorganik, sekaligus mengajak masyarakat menerapkan pola hidup yang lebih bersih dan sehat. Program ini sejalan dengan nilai nilai ajaran Islam dan prinsip pengabdian kepada masyarakat, di mana menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.
Bahrul Falah selaku Gubernur BEM FTAN menyampaikan bahwasanya Melalui sosialisasi yang dilakukan, mahasiswa ingin memastikan bahwa pengetahuan mengenai cara mengolah residu organik ini benar-benar dipahami dan mampu diterapkan oleh masyarakat. Warga diperkenalkan pada langkah-langkah pengolahan sederhana, mulai dari pemilahan, pengolahan awal, hingga kemungkinan pengemasan produk bila nantinya dikembangkan untuk dijual.
“Selama ini, banyak residu yang kita anggap tidak berguna. Padahal, sebenarnya bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat, bahkan bernilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Bahrul
Harapannya, ketika warga sudah mengetahui cara mengolah residu menjadi produk bernilai jual, mereka dapat menjadikannya sebagai sumber pemasukan tambahan. Produk-produk olahan dari residu organik tersebut berpotensi menjadi ladang usaha baru, baik untuk perorangan maupun kelompok masyarakat. Dengan begitu, program sosialisasi ini tidak hanya berhenti pada peningkatan kesadaran lingkungan, tetapi juga diarahkan pada penciptaan kemandirian ekonomi masyarakat.
Rangkaian kegiatan di Pangkal Jaya ini diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya gerakan pengelolaan sampah yang lebih terstruktur di tingkat kampung. Ke depan, berbagai inisiatif seperti pembuatan kelompok pengolah sampah organik, pelatihan lanjutan pengolahan residu, hingga pendampingan pemasaran produk bisa terus dikembangkan seiring meningkatnya pemahaman masyarakat.
Dengan pendampingan berkelanjutan dari mahasiswa dan pihak kampus, Pangkal Jaya diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana edukasi pengelolaan sampah yang sederhana, bila dipadukan dengan inovasi pemanfaatan residu, mampu menjawab sekaligus dua tantangan: menjaga lingkungan dan memperkuat ekonomi warga.
Reporter: MRM
Penulis: RR
