SUARA PERUBAHAN: Kreatif, Inovatif, Religius

Perlawanan Itu Bernama Siti Walidah

Oleh Ega Aura Fitri


 Source by:  Republika.id

Setiap kali bulan April menyapa, ingatan kita secara kolektif akan tertuju pada sosok RA Kartini. Kita merayakan keberaniannya menggugat pingitan melalui surat-surat yang melampaui zamannya. Namun, spirit "perempuan yang melawan" tidak berhenti di Jepara. Di sudut lain tanah Jawa, tepatnya di gang-gang sempit Kauman, Yogyakarta, ada seorang perempuan lain yang menerjemahkan kegelisahan Kartini menjadi sebuah gerakan masif yang manfaatnya kita rasakan hingga detik ini. Ia adalah Siti Walidah, atau yang lebih kita kenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

Bayangkan menjadi sosok yang begitu ikonik sampai kamu mendirikan organisasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia dan namamu abadi sebagai inspirasi bagi para pendidik, mahasiswa, hingga Masyarakat luas hingga kini. Inilah kisah Siti Walidah, atau yang lebih kita kenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, sosok "Leading Lady" yang jejaknya melampaui waktu.

Lahir pada 3 Januari 1872 di Kauman, Yogyakarta, Siti Walidah tumbuh dalam lingkungan keluarga saudagar batik. Sebagai gadis di era itu, ia tidak mencicipi pendidikan formal. Dunianya adalah dinding-dinding rumah, namun keterbatasan itu tidak membelenggu jiwanya. Ia menyerap nilai-nilai spiritual dengan dalam. Mulai dari belajar bahasa Arab, memahami Al-Qur'an, dan mendalami studi agama yang kelak menjadi fondasi bagi visi besarnya.

Tahun 1889 menjadi titik balik saat ia menikah dengan Muhammad Darwis, lelaki yang kelak dikenal sebagai Kiai Haji Ahmad Dahlan. Di balik berdirinya Muhammadiyah, ada Siti Walidah yang bergerak dalam senyap namun pasti.

Sopo Tresno: Mereka yang Mencintai
Pada tahun 1914, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan sebuah kelompok studi kecil bernama Sopo Tresno, yang secara harfiah berarti "Mereka yang Mencintai". Awalnya, kelompok ini hanya diikuti oleh perempuan terpelajar di Kauman. Namun, karena Kauman adalah pusat produksi batik, para buruh batik yang mayoritas adalah perempuan,mulai bergabung.

Di sinilah keajaiban itu terjadi. Batik, yang secara tradisional adalah aktivitas tangan perempuan, menjadi pintu masuk bagi pemberdayaan. Lewat Sopo Tresno, Nyai Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan agama, tapi juga menyemai benih emansipasi. Kelompok ini kemudian bertransformasi menjadi Aisyiyah pada 1917, sebuah organisasi yang secara resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah pada tahun 1922.

Empat Catur Pusat dan Kudung Aisyiyah
Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan adalah pasangan yang percaya sepenuhnya pada potensi perempuan. Mereka mempelopori kerangka Empat Catur Pusat, yaitu sebuah integrasi pendidikan yang meliputi keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, dan rumah ibadah. Pesannya jelas, bahwa pendidikan harus bisa diakses oleh anak perempuan di mana pun mereka berada.

Menariknya, Nyai Ahmad Dahlan juga adalah seorang "fashion influencer" pada zamannya. Aisyiyah adalah salah satu organisasi pertama yang mendorong perempuan muslim mengenakan hijab. Untuk mempopulerkannya, mereka memperkenalkan Songket Kauman (yang sebenarnya bukan tenunan songket, melainkan kain dengan sulaman tangan yang sangat halus.) Kain inilah yang kemudian dikenal sebagai Kudung Aisyiyah, sebuah identitas visual yang ikonik hingga hari ini.

Memecah Langit-Langit Kaca
Perjalanan Siti Walidah tentu tidak selalu mulus. Dimasa ketika banyak orang percaya bahwa perempuan terpelajar akan sulit "tunduk" pada suami, ia terus mendobrak batasan tersebut. Puncaknya, pada tahun 1926, tiga tahun setelah wafatnya sang suami, Siti Walidah memimpin Kongres Tahunan Muhammadiyah ke-15. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, seorang perempuan memimpin konferensi nasional sebesar itu. Sebuah pencapaian yang bahkan belum pernah terbayangkan oleh perempuan mana pun di masa itu.

Riak yang Tak Pernah Padam
Kisah heroik Siti Walidah bukan sekadar catatan di buku sejarah. Perjuangannya memiliki riak yang sampai ke masa kini, dituturkan dan dipekenalkan turun temurun. Siti Walidah, yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1971, 25 tahun setelah wafatnya di tahun 1946, mengajarkan kita satu hal; pertempuran yang kita perjuangkan hari ini, kebaikan yang kita tanam dalam hidup ini, mungkin akan terus beriak dan menghidupi generasi-generasi di masa depan yang bahkan mungkin tidak akan pernah kita temui.

Sebab, pendidikan bagi perempuan bukan hanya soal kecerdasan individu, melainkan soal menyalakan obor bagi seluruh peradaban. Di momen Hari Kartini ini, kita diingatkan bahwa perlawanan perempuan memiliki banyak wajah. Baik melalui pena seperti Kartini, maupun melalui pengorganisasian massa seperti Nyai Ahmad Dahlan. Keduanya adalah bukti bahwa perempuan Indonesia tidak pernah diam dalam menghadapi ketidakadilan. Semoga selalu tumbuh Siti Walidah-Siti Walidah dan Kartini-Kartini masa kini, yang suaranya lantang di tengah kekacauan, yang aksinya menggerakkan kelompok-kelompok tiran.

sebab perempuan yang terdidik, adalah perlawanan yang takkan pernah mati.

*sources:
- "Rethinking Women's Education From The Perspective of Siti Walida", Nurlaelah, Suharsiwi, Husnul Haq (UMJ, Al-Aazhar Cairo)
- "Redifining Manhood and Womanhood: Insights From The Oldest Muslims Womens Organization, Aisyiyah", Siti Syamsiyatun (STUDIA ISLAMIKA)
- @almahello on tiktok