SUARA PERUBAHAN: Kreatif, Inovatif, Religius

Aktualisasi Nilai Kartini: Ke Mana Para Perempuan Hari Ini?

 Oleh Alya Naila


Doc by Detik.com

Lebih dari seratus tahun lalu, dari balik tembok pingitan di Jepara, seorang perempuan muda menuliskan keresahan yang menembus zaman. Melalui surat-surat dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, R.A. Kartini tidak sedang sekadar mengeluh tentang nasibnya; ia sedang menggambar peta masa depan bagi kita semua.

Namun, jika hari ini Kartini hadir di tengah hiruk-pikuk media sosial dan gedung-gedung pencakar langit, apa yang akan ia katakan? Ke mana sebenarnya langkah kaki perempuan hari ini setelah pintu pingitan itu sudah lama didobrak?

Pendidikan: Bukan Hanya Soal Gelar, Tapi Tentang "Menjadi" Kita sering bangga dengan statistik jumlah perempuan di universitas. Namun, Kartini pernah mengingatkan dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar:

“Kami di sini memohonkan pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak perempuan... bukan karena kami ingin menjadikan mereka saingan laki-laki, tetapi karena kami yakin akan pengaruh besar yang datang dari kaum perempuan.”

Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar tiket untuk mencari kerja atau ajang pamer gelar. Aktualisasi nilai Kartini hari ini seharusnya adalah tentang kemandirian berpikir. Perempuan yang "Kartini banget" di era sekarang adalah mereka yang menggunakan kecerdasannya untuk memberi dampak, menjadi solusi bagi lingkungan sekitarnya, dan tidak mudah terbawa arus informasi yang menyesatkan.

Merubuhkan "Pingitan Modern" Secara fisik, kita memang sudah bebas. Kita bisa pergi ke mana saja dan menjadi apa saja. Tapi sadarkah kita bahwa ada "pingitan-pingitan" baru yang tak kasat mata? Tuntutan untuk selalu terlihat sempurna di media sosial, rasa tidak aman (insecure) karena standar kecantikan yang sempit, hingga stigma terhadap perempuan yang memilih jalan hidup berbeda—ini adalah tembok pingitan modern.

Kartini pernah menulis: 

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri,”

Aktualisasi nilai Kartini hari ini berarti punya keberanian untuk menjadi diri sendiri secara utuh. Kebebasan sejati adalah ketika kita berhenti memenjarakan diri dalam ekspektasi orang lain.

Emansipasi yang Merangkul, Bukan Memukul Seringkali emansipasi disalahpahami sebagai kompetisi untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat. Padahal, jika kita membaca kembali pemikirannya, Kartini justru mendambakan harmoni. Beliau memimpikan perempuan yang berdaya agar bisa menjadi mitra yang setara bagi laki-laki dalam membangun bangsa.

Perempuan hari ini seharusnya adalah mereka yang bergerak maju tanpa harus menginjak orang lain. Mereka yang saling mendukung (women supporting women), bukan yang saling menjatuhkan demi pengakuan.

Penutup: Menjaga Api, Bukan Abu Ke mana para perempuan hari ini? Kita sedang berada di masa depan yang dulu hanya ada dalam mimpi Kartini. Namun, perjuangan belum selesai. Menjadi Kartini masa kini bukan berarti harus memakai kebaya setahun sekali setiap tanggal 21 April.

Menjadi Kartini adalah tentang memiliki "api" pemikirannya—semangat untuk terus belajar, ketangguhan dalam menghadapi diskriminasi, dan kelembutan hati untuk tetap peduli pada sesama. Sebagaimana pesan penutup dalam bukunya yang legendaris:

"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan."

Pagi itu sudah datang. Sekarang, tinggal bagaimana kita menggunakan cahayanya untuk menerangi jalan bagi orang lain.