Antara Tangis Senyap dan Harapan yang Bersemi
Oleh Citra Dewi
Apapun yang terjadi, di tengah kebisingan suara klakson kota dan ketangguhan maskulin demi kemajuan, sebuah perasaan dari masa lalu mulai muncul di dalam lingkungan. Ini adalah Ibu Pertiwi atau Tanah Air, sumber kehidupan ekologis dan kawasan yang sarat dengan kesedihan, tempat di mana jutaan anaknya berdiri, kini terperangkap oleh pencemaran dan disibukkan oleh kebisingan zaman sekarang yang semakin dangkal. Ada sebuah ironi kuat, tanah yang secara historis megah bahkan melimpah kini telah melahirkan generasi yang merasa terasing di tanah air mereka sendiri, semata-mata karena rasa kebencian yang meluas.
Ini bukan hanya sekedar ungkapan puitis bernuansa antroposentris dalam tradisi nasionalistik yang ritmis. Ini adalah inti dari kenyataan berbentuk tanah, air, dan udara. Namun kini wajahnya hancur parah akibat kerusakan yang sistematis. Hutan-hutan yang seharusnya menjadi paru-paru bagi semua makhluk hidup telah digantikan dengan bangunan beton, dan lokasi-lokasi eksploitasi menggantikan fungsi paru-paru. Kita telah menjunjung tinggi para pelopor pertumbuhan ekonomi tetapi jarang mempertanyakan “Apakah kemakmuran sebanding dengan penderitaan lingkungan akibat kerusakan iklim?”
Alienasi Hijau: Menjadi Orang Asing di Tanah Sendiri
Dalam kota besar yang tengah berkembang, ketidaksamaan sosial muncul dari jarak terhadap lingkungan. Eksistensi yang dulunya terikat erat pada tanah kini berkurang menjadi simbolisme nasionalisme, dirayakan setahun sekali di bulan Agustus. Keterikatan kita dengan Tanah Air sangat tergantung pada kesadaran ekosentris, suatu keseimbangan antara keinginan manusia dan batasan kemampuan planet ini.
Kita terlalu fokus pada pembangunan vertikal (gedung pencakar langit) hingga lupa menguatkan akar horizontal yang menembus ke dalam tanah. Penduduk kota kehilangan hubungan emosional dengan tamannya, melihat alam sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, bukan sebagai entitas yang harus dilindungi.
Melawan Apatis: Membangun Ruang Harapan
Di tengah keadaan darurat, harapan selalu ada. Hal ini terlihat jelas pada mahasiswa yang berjuang untuk lingkungan yang sudah rusak, mengandalkan kekuatan berpikir kritis, dan melawan ketidakadilan yang berlangsung lama. Ketahanan alam berakar dalam kebijaksanaan lokal yang tetap ada.
Generasi ini harus menyadari tesis penting: "Tanah ini bukanlah warisan yang dapat dieksploitasi, tetapi amanah untuk generasi mendatang." Mereka yang bergerak ini adalah 'penyembuh' yang mengusung luka-luka Ibu Pertiwi dan berkomitmen untuk memulihkannya.
Penutup: Kembali ke Pelukan Ibu Pertiwi
Kita tidak dapat lagi melihat alam dan kemanusiaan sebagai sekadar sumber yang bisa dieksploitasi dengan logika kapitalis. Melindungi Ibu Pertiwi harus dilakukan melalui tindakan yang konkret dan kebijakan berkelanjutan yang mengedepankan simpati sosial.
Pada akhirnya, ketika struktur bangunan mulai hancur dan sumber daya menipis, satu-satunya pilihan kita adalah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dia tidak memerlukan kata-kata kosong, tetapi komitmen yang nyata. Pertanyaan yang muncul adalah: "Apakah kita akan terus menjadi orang asing yang acuh tak acuh, atau kita akan kembali untuk menjaganya? "
