SUARA PERUBAHAN: Kreatif, Inovatif, Religius

Sejarah Lomba 17-an dan Makna di Baliknya

Oleh Muhammad Yusuf Al Farabi

Foto: ruparupa.id

Lomba 17 Agustus menjadi tradisi masyarakat Indonesia untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di setiap tanggal 17 Agustus. Banyak perlombaan yang diselenggarakan mulai dari balap karung, makan kerupuk, tarik tambang hingga panjat pinang.

Sejarah Lomba 17 Agustus
Tradisi lomba 17-an mulai populer pada era 1950-an, sekitar 5 tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Sejarawan JJ Rizal mencatat bahwa lomba-lomba yang diselenggarakan bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur untuk berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dari para penjajah.

Dengan semangat tersebut, seluruh warga dari berbagai lapisan masyarakat ikut serta dalam berbagai macam perlombaan yang diselenggarakan. Kegiatan ini menekankan dan membangun nilai-nilai seperti semangat, persatuan, kerja sama, ketangguhan, serta nilai-nilai yang diperjuangkan selama masa penjajahan.

Selama ini, perlombaan 17 Agustus yang digelar sering dipandang hanya sebatas permainan yang menarik dan juga asyik, tanpa melihat makna apa yang terkandung dibalik setiap perlombaannya. Padahal, ada makna yang terkandung dibalik setiap perlombaannya. Berikut adalah beberapa perlombaan yang ternyata memiliki makna dibaliknya:

·     Balap karung

Perlombaan ini memiliki akar sejarah dari masa penjajahan Jepang, pada saat itu rakyat sering kali kekurangan pakaian dan terpaksa menggunakan karung goni sebagai alternatif pakaian mereka. Kini, lomba balap karung menjadi perlombaan yang menghibur dan seru yang menghadirkan kegembiraan warga sekaligus sebagai pengingat akan masa sulit pada zaman dahulu.

·     Panjat pinang

Lomba panjat pinang berawal dari masa penjajahan Belanda sejak tahun 1920-an, pada awalnya panjat pinang bernama de klimmast (memanjat tiang) dan diadakan oleh orang Belanda pada acara besar  seperti pernikahan, hajatan atau ulang tahun Ratu Wilhelmina. Pada saat itu pribumi yang memanjat tiang licin demi hadiah, sedangkan orang Belanda menonton dari bawah. Saat ini Lomba panjat pinang seringkali diadakan pada lomba 17-an untuk mendapatkan beragam hadiah sekaligus sebagai cerminan dari rasa kerja sama dan gotong royong.

·     Makan kerupuk

Pada masa penjajahan, kerupuk adalah salah satu makanan murah yang mudah didapat. Di balik keseruannya, perlombaan ini juga diciptakan sebagai pengingat akan kondisi ekonomi dan kesulitan pangan yang harus dihadapi masyarakat pada masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945–1950.

·     Tarik tambang

Sejarah tarik tambang di Indonesia dikenalkan oleh bangsa Belanda di masa penjajahan. Pada awalnya, masyarakat Indonesia dikenalkan dengan tali tambang untuk menarik benda berat, seperti batu, pasir, dan lainnya. Namun perlahan tali tersebut dijadikan permainan sebagai hiburan menjadi tarik tambang dan rutin diadakan pada perayaan hari kemerdekaan.

 Selain lomba-lomba diatas, masih banyak perlombaan lain yang pastinya memiliki makna dibaliknya. Terlepas dari berbagai makna, perlombaan yang diadakan pada perayaan 17-an memiliki banyak manfaat seperti menanamkan nilai perjuangan, sportivitas, dan pantang menyerah, menjadi sarana memperkenalkan sejarah kemerdekaan kepada generasi muda melalui kegiatan yang menyenangkan, serta melestarikan permainan tradisional yang menjadi bagian dari budaya Indonesia.

Lebih dari sekadar perlombaan, tradisi lomba 17-an merupakan simbol kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Di tengah perkembangan zaman, bentuk perlombaannya memang terus berinovasi, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap sama.

Karena itulah, lomba 17 Agustus masih terus dipertahankan sebagai salah satu tradisi yang paling dinantikan masyarakat setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.