Layar Redup Tempatku Belajar Keberanian
Rabu, 02 September 2026
Oleh Pasca Muhammad Sya'bani
![]() |
| Foto: Pinterest |
Pukul 02.45 WIB. Suara burung di kejauhan sesekali memecah kesunyian malam, sementara kursor di layar laptop terus berkedip, seolah menghitung berapakali aku meragukan diriku sendiri pada malam itu. Di hadapanku terbuka esai pertamaku yang berjudul, “Peran Logika dan Perasaan dalam Praktik Child Grooming”. Tulisan pertama yang benar-benar ingin kubagikan kepada orang lain. Namun, halaman yang berhasil kuselesaikan bahkan belum mencapai satu halaman penuh. Untuk kesekian kalinya, jariku menekan tombol backspace. Paragraf yang kutulis selama hampir tiga jam menghilang begitu saja.
“Sudahlah, mungkin menulis memang bukan keahlianku”.
Suara dalam kepalaku berulangkali membisikan kalimat itu, bahkan terdengar lebih nyaring daripada suara burung di kejauhan.
Sejak lama aku selalu mengagumi orang-orang yang mampu merangkai kata dengan indah. Aku mengira mereka dilahirkan dengan bakat yang tidak pernah kumiliki. Setiapkali tulisanku terasa berantakan, aku lebih memilih menghapusnya daripada memperbaikinya. Setiap kedipan kursor seperti mengingatkanku bahwa aku tidak cukup baik untuk menyelesaikan sebuah esai tersebut. Bukan hanya karena topiknya tidak mudah, tetapi juga karena untuk pertama kalinya aku ingin membiarkan pikiranku dibaca, dinilai, bahkan mungkin dipatahkan oleh orang lain.
Malam itu aku hampir menutup laptop. Bahkan jemariku sempet berhenti di tombol daya. Namun, sebelum benar-benar menyerah, sebuah pesan dari teman muncul di layar ponsel.
“Semangat Paska, jangan berhenti untuk menulisnya yaa.”
Pesan sederhana itu membuatku kembali membuka dokumen yang tadi hampir kutinggalkan. Aku membaca ulang setiap kalimat, mengubah susunannya, menghapus yang tidak perlu, lalu menuliskannya kembali. Tidak ada keajaiban yang membuat tulisan itu tiba-tiba menjadi sempurna, yang berubah hanyalah keputusanku untuk tetap bertahan ketika keinginan untuk menyerah datang berkali-kali.
Menjelang subuh, esai itu akhirnya selesai. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku menekan tombol “Publikasikan”. Layar laptop perlahan meredup, tetapi malam itu ada satu hal yang tidak lagi redup. Keberanianku untuk membiarkan pikiranku menemukan pembacanya. Beberapa hari setelah esai itu dipublikasikan, aku menerima sebuah pesan dari seorang teman.
“Terima kasih, setelah membaca tulisanmu, aku lebih paham bahwa perhatian yang berlebihan tidak selalu berarti kasih sayang, dan aku jadi lebih berani menjaga diriku”.
Aku membaca kalimat itu berulangkali. Saat itulah aku menyadari, bahwa malam ketika hampir menyerah, yang sedang kupertahankan bukan sekadar sebuah esai tentang child grooming. Melainkan yang sebenarnya sedang kuselamatkan adalah keberanianku untuk menyuarakan sesuatu yang kuanggap penting, meski sempat takut tidak ada yang mau mendengarkan. Esai itu hanyalah sebuah saksi dari perjalanan tersebut.
Kini, setiap kali kursor berkedip di layar, aku tidak lagi melihatnya sebagai hitungan atas keraguanku. Ia menjadi penanda bahwa setiap keberanian selalu dimulai dari satu kalimat pertama. Begitu juga dengan perjalanan menuju dewasa, ternyata bukan tentang menjadi seseorang yang tidak pernah ragu, melainkan tentang tetap memilih melangkah meski keraguan masih ada. Kursor itu masih berkedip seperti malam pertama ketika aku meragukan diriku sendiri. Bedanya, kini ia tidak lagi menghitung berapa kali aku ingin menyerah. Tetapi ia menunggu kalimat pertama berikutnya. Dan kali ini, aku tidak takut untuk menuliskannya.
