SUARA PERUBAHAN: Kreatif, Inovatif, Religius

Batik, Sampai Kapan Kita Memakainya?

Oleh Aviv Maula Tsani

Pict By Pinterest

Kala itu, baju tanpa motif bukanlah refleksi dari minimalisme dan kemewahan seperti yang kita pahami 2 dekade kebelakang. Baju tanpa motif kala itu mengarah pada kesederhanaan yang jauh lebih sosial daripada sekadar selera. Ada kain yang dikenakan oleh mereka yang memiliki kedudukan, ada pula pakaian yang menunjukan bahwa seseorang berada di luar lingkaran itu. Motif yang melekat pada kain bukan sekedar ornamen untuk membuat seseorang terlihat menarik. Ia bisa menjadi tanda tentang siapa yang mengenakannya, dari lingkungan mana ia berasal, dan status apa yang ingin ia lihatkan kepada sekitar. Corak tidak bersuara, tetapi pada masa itu ia mampu mengatakan banyak hal daripada seorang orator ulung di tengah kerumunan. Kiranya corak adalah bahasa nonverbal yang lebih lantang dari bahasa manapun.

Waktu berjalan lekas, hari ini kita mungkin tidak membaca pakaian dengan cara yang yang sama. Kita memandang motif lebih kepada selera, warna, atau bahkan hanya untuk menyamakan nada pada acara tertentu. Kita mengenakan batik ke kampus ketika ada aturan yang meminta, memakainya ketika menghadiri pernikahan, atau mengeluarkannya dari lemari setiap kali tanggal tanggal 2 Oktober datang. Setelah itu, batik kembali dilipat dan disimpan, menunggu kesempatan berikutnya untuk dikenakan. Barangkali tidak ada yang salah dari kebiasaan itu. Hanya saja, ada sesuatu yang hilang ketika sebuah benda yang dulunya begitu erat dengan kehidupan manusia perlahan hanya kita kenali sebagai pakaian formal.

Batik sebelum menjadi apa yang sekarang kita sebut sebagai salah satu identitas Indonesia, pernah menjadi bagian dari cara masyarakat membaca dirinya sendiri. Di lingkungan seperti Yogyakarta dan Surakarta, motif tertentu memiliki aturan penggunaan dan berkaitan dengan kedudukan sosial. Kita mungkin tidak lagi hidup dengan susunan sosial seperti itu lagi, namun manusia sebenarnya belum benar-benar berhenti menggunakan pakaian sebagai bahasa. Hari ini kita membaca merek, model, harga, atau benda-benda yang menempel pada tubuh seseorang. Dulu salah satu bahasa itu adalah corak kain.

Barangkali ada sebab yang tidak pernah benar-benar aku tahu, yang membuatku terus mempertanyakan cara batik dibuat. Kata batik sering dikaitkan dengan amba, yang berarti menulis, dan nitik, membuat titik. Meskipun asal-usul istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai etimologi popular, gambaran tentang “menulis” terasa cukup dekat dengan proses membatik. Dengan canting di tangan, seseorang menaruh malam sedikit demi sedikit di atas kain, membatasi bagian-bagian tertentu agar tidak menerima warna ketika kain dicelup. Proses itu membutuhkan waktu, ketelitian, dan pengulangan. Ketika banyak hal hari ini ingin kita selesaikan secepat mungkin, batik mengharuskan seseorang percaya bahwa satu titik tetap layak dikerjakan dengan sabar.

Batik kemudian keluar dari Keraton. Setelah Perang Diponegoro, sejumlah bangsawan Yogyakarta pindah ke Banyumas dan Pekalongan, membawa keterampilan itu ke lingkungan yang lebih luas. Batik tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sekaligus perdagangan, lalu muncul batik cap dan kain bermotif batik yang diproduksi lebih cepat. Maknanya ikut bergerak: dari sesuatu yang menjelaskan siapa aku, menjadi sesuatu yang mengatakan siapa kita. Pada 2 Oktober 2009, batik Indonesia tercatat dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO, dan tanggal itu kita kenal sebagai Hari Batik Nasional.

Namun setelah sebuah kebudayaan diakui, aku merasa ada pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang sebenarnya harus kita lakukan terhadapnya? Apakah cukup dengan mengenakannya pada hari tertentu, mengunggah foto dengan kain batik, lalu merasa bahwa kita telah mengambil bagian dalam menjaganya?” Mungkin itu salah satu bentuk penghargaan. Tetapi kebudayaan tidak hanya membutuhkan orang yang mau mengenakan bentuk luarnya. Ia membutuhkan orang yang masih ingin mengetahui cerita di balik bentuk tersebut.

Sebab kita hidup di zaman ketika banyak hal datang kepada kita tanpa perlu kita cari. Kita tidak perlu mengetahui siapa yang pertama membuat sesuatu untuk bisa menggunakannya. Kita tidak perlu memahami sejarah sebuah benda untuk membelinya. Bahkan sering kali kita tidak perlu mengetahui bagaimana sesuatu dibuat untuk menganggapnya biasa. Mungkin itulah yang paling berbahaya bagi sebuah kebudayaan: bukan ketika orang-orang membencinya, tetapi ketika orang-orang sudah terlalu terbiasa dengannya sampai tidak lagi merasa perlu bertanya.

Kita mengenal batik sejak kecil, mungkin justru karena itu kita jarang memberinya perhatian. Ia ada di lemari orang tua, di seragam sekolah, di acara keluarga, di kantor, juga di kampus. Ia begitu dekat sehingga tidak terasa seperti sesuatu yang harus dikenali. Padahal, di balik selembar kain yang kita kenakan, ada tangan seseorang yang pernah duduk dan mengerjakan titik demi titik. Ada waktu yang dihabiskan untuk membuatnya. Ada pengetahuan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Barangkali itulah mengapa Hari Batik tidak seharusnya berhenti sebagai hari ketika mahasiswa dan pekerja diminta mengenakan pakaian bermotif. Ia bisa menjadi jeda kecil di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat, kesempatan untuk melihat kembali sesuatu yang selama ini ada di depan mata. Kita mengenakan batik bukan hanya karena ia berasal dari Indonesia, tetapi karena di dalamnya ada perjalanan manusia yang panjang, dan sekarang sebagian dari perjalanan itu sedang kita bawa di tubuh kita sendiri.

Kalau suatu hari nanti kita sudah terlalu jauh dari semua ini, mungkin yang tersisa hanyalah motif yang tidak lagi kita mengerti. Kita masih bisa mengenali bentuknya, masih bisa membeli kainnya, masih bisa memakainya untuk acara tertentu, tetapi tidak lagi mengetahui apa yang pernah membuatnya berarti. Dan mungkin di situlah sebuah kebudayaan benar-benar kehilangan sesuatu. Bukan ketika kainnya berhenti diproduksi, melainkan ketika tidak ada lagi yang merasa perlu bertanya mengapa kain itu harus terus ada.

Kalau umurku dibentangkan, aku ingin lahir kembali sebagai batik, digambar tanpa tergesa, setitik demi setitik, percaya bahwa yang dilindungi malam justru yang kekal putihnya. Aku ingin menjadi kain yang tidak sekadar dikenakan, tetapi menyimpan sesuatu dari orang-orang yang pernah menyentuhnya: tangan yang menggambar, tubuh yang memakainya, rumah tempat ia dicuci, dan waktu yang membuat warnanya perlahan berubah. Aku diam, sebab kata-kataku sudah kutitipkan pada motif. Rapuh di atas kain, tetapi tak pernah luntur oleh celupan.