Batik, Sampai Kapan Kita Memakainya?
Jumat, 02 Oktober 2026
Oleh Aviv Maula Tsani
Kala itu, baju tanpa motif
bukanlah refleksi dari minimalisme dan kemewahan seperti yang kita pahami 2
dekade kebelakang.
Baju tanpa motif kala itu mengarah pada kesederhanaan yang jauh lebih sosial
daripada sekadar
selera. Ada kain yang dikenakan oleh mereka yang memiliki kedudukan, ada pula
pakaian yang menunjukan bahwa seseorang berada di luar lingkaran itu. Motif
yang melekat pada kain bukan sekedar ornamen untuk membuat seseorang terlihat
menarik. Ia bisa menjadi tanda tentang siapa yang mengenakannya, dari lingkungan mana ia berasal, dan
status apa yang ingin ia lihatkan kepada sekitar. Corak tidak bersuara, tetapi
pada masa itu ia mampu mengatakan banyak hal daripada seorang orator ulung di
tengah kerumunan. Kiranya corak adalah bahasa nonverbal yang lebih lantang dari
bahasa manapun.
Waktu berjalan lekas, hari ini kita
mungkin tidak membaca pakaian dengan cara yang yang sama. Kita memandang motif
lebih kepada selera, warna, atau bahkan hanya untuk menyamakan nada pada acara
tertentu. Kita mengenakan batik ke kampus ketika ada aturan yang
meminta, memakainya ketika
menghadiri pernikahan, atau mengeluarkannya dari lemari setiap kali tanggal tanggal
2 Oktober datang. Setelah itu, batik kembali dilipat dan
disimpan, menunggu kesempatan berikutnya untuk dikenakan. Barangkali tidak ada
yang salah dari kebiasaan itu. Hanya saja, ada sesuatu yang hilang ketika sebuah benda yang
dulunya begitu erat dengan kehidupan manusia perlahan hanya kita kenali sebagai
pakaian formal.
Batik sebelum menjadi apa yang
sekarang kita sebut sebagai salah satu identitas Indonesia, pernah menjadi
bagian dari cara masyarakat
membaca dirinya sendiri. Di lingkungan seperti Yogyakarta dan Surakarta, motif
tertentu memiliki aturan penggunaan dan berkaitan dengan kedudukan sosial. Kita
mungkin tidak lagi hidup dengan susunan sosial seperti itu lagi, namun manusia
sebenarnya belum benar-benar berhenti menggunakan pakaian sebagai bahasa. Hari ini kita
membaca merek, model, harga, atau benda-benda yang menempel pada tubuh
seseorang. Dulu salah satu bahasa itu adalah corak kain.
Barangkali ada sebab yang tidak pernah benar-benar aku tahu, yang membuatku
terus mempertanyakan
cara batik dibuat. Kata batik sering dikaitkan dengan amba, yang berarti
menulis, dan nitik, membuat titik. Meskipun asal-usul istilah tersebut
lebih tepat dipahami sebagai etimologi popular, gambaran tentang
“menulis” terasa cukup dekat dengan proses membatik. Dengan canting di tangan,
seseorang menaruh malam sedikit demi sedikit di atas kain, membatasi
bagian-bagian tertentu agar tidak menerima warna ketika kain dicelup. Proses
itu membutuhkan waktu, ketelitian, dan pengulangan. Ketika banyak hal hari ini
ingin kita selesaikan secepat mungkin, batik mengharuskan seseorang percaya bahwa
satu titik tetap layak dikerjakan dengan sabar.
Batik kemudian keluar dari Keraton. Setelah Perang
Diponegoro, sejumlah bangsawan Yogyakarta pindah ke Banyumas dan Pekalongan, membawa keterampilan itu
ke lingkungan yang lebih luas. Batik tumbuh menjadi bagian dari kehidupan
sekaligus perdagangan, lalu muncul batik cap dan kain bermotif batik yang
diproduksi lebih cepat. Maknanya ikut bergerak: dari sesuatu yang menjelaskan
siapa aku, menjadi sesuatu yang mengatakan siapa kita. Pada 2 Oktober 2009, batik
Indonesia tercatat dalam Representative List of the Intangible Cultural
Heritage of Humanity UNESCO, dan tanggal itu kita kenal sebagai Hari Batik
Nasional.
Namun setelah sebuah kebudayaan
diakui, aku merasa ada pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang sebenarnya harus
kita lakukan terhadapnya? Apakah
cukup dengan mengenakannya pada hari tertentu, mengunggah foto dengan kain
batik, lalu merasa bahwa kita telah mengambil bagian dalam menjaganya?” Mungkin itu salah satu
bentuk penghargaan. Tetapi kebudayaan tidak hanya membutuhkan orang yang mau
mengenakan bentuk luarnya. Ia membutuhkan orang yang masih ingin mengetahui
cerita di balik bentuk tersebut.
Sebab kita hidup di zaman ketika
banyak hal datang kepada kita tanpa perlu kita cari. Kita tidak perlu mengetahui
siapa yang pertama membuat sesuatu untuk bisa menggunakannya. Kita tidak perlu
memahami sejarah sebuah benda untuk membelinya. Bahkan sering kali kita tidak
perlu mengetahui bagaimana sesuatu dibuat untuk menganggapnya biasa. Mungkin
itulah yang paling berbahaya bagi sebuah kebudayaan: bukan ketika orang-orang
membencinya, tetapi ketika orang-orang sudah terlalu terbiasa dengannya sampai
tidak lagi merasa perlu bertanya.
Kita mengenal batik sejak kecil,
mungkin justru karena itu kita jarang memberinya perhatian. Ia ada di lemari
orang tua, di seragam sekolah, di acara keluarga, di kantor, juga di kampus. Ia begitu
dekat sehingga tidak terasa seperti sesuatu yang harus dikenali. Padahal, di
balik selembar kain yang kita kenakan, ada tangan seseorang yang pernah duduk
dan mengerjakan titik demi titik. Ada waktu yang dihabiskan untuk membuatnya.
Ada pengetahuan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Barangkali itulah mengapa Hari
Batik tidak seharusnya berhenti sebagai hari ketika mahasiswa dan pekerja
diminta mengenakan pakaian bermotif. Ia bisa menjadi jeda kecil di tengah
kehidupan yang terus bergerak cepat, kesempatan untuk melihat kembali sesuatu
yang selama ini ada di depan mata. Kita mengenakan batik bukan hanya karena ia
berasal dari Indonesia, tetapi karena di dalamnya ada perjalanan manusia yang
panjang, dan sekarang sebagian dari perjalanan itu sedang kita bawa di tubuh
kita sendiri.
Kalau suatu hari nanti kita sudah
terlalu jauh dari semua ini, mungkin yang tersisa hanyalah motif yang tidak
lagi kita mengerti. Kita masih bisa mengenali bentuknya, masih bisa membeli
kainnya, masih bisa memakainya untuk acara tertentu, tetapi tidak lagi
mengetahui apa yang pernah membuatnya berarti. Dan mungkin di situlah sebuah
kebudayaan benar-benar kehilangan sesuatu. Bukan ketika kainnya berhenti
diproduksi, melainkan ketika tidak ada lagi yang merasa perlu bertanya mengapa
kain itu harus terus ada.
Kalau umurku dibentangkan, aku
ingin lahir kembali sebagai batik, digambar tanpa tergesa, setitik demi
setitik, percaya bahwa yang dilindungi malam justru yang kekal putihnya. Aku
ingin menjadi kain yang tidak sekadar dikenakan, tetapi menyimpan sesuatu dari
orang-orang yang pernah menyentuhnya: tangan yang menggambar, tubuh yang
memakainya, rumah tempat ia dicuci, dan waktu yang membuat warnanya perlahan
berubah. Aku diam, sebab kata-kataku sudah kutitipkan pada motif. Rapuh di atas
kain, tetapi tak pernah luntur oleh celupan.